Category Archives: my mind

terpulas dalam nikmat ranjang
terdampar di penantian bantal
kurebahkan badan dalam ranjang
kepala sandarkan di atas bantal
melihat langit yang terang
dengan sinar mentarinya
mencoba menembus awan-awan
yang mulai bergumpalan
hembusan angin pun menerpa
masuk ke dalam kamar
menerpa wajah kusutku
dengan kesegaran terbawa
kulihat
langit mulai menghitam
dengan dendam-dendam awan hitam
mencoba tuk tutupi sang mentari
yang sinarnya menghangatkan
hitam dan menghitam
dengan perasaan geram
mulai mengaung-ngaung
tubuhku mulai terasa dingin
membawa semua kegelapan
merasuk tubuhku
kucoba tuk menutup sang tirai
seiring aungan yang tak

terkendali
bergetar seluruh ruangan
mencari sandaran tuk lindungi
tubuhku yang rentan
oh tuhan
aungan langit semakin menjadi
dan air langit pun turun
dengan derasnya menerpa bumi
jegger…jegger…
terdengar begitu dekat
dan semakin mendekat
sembunyi dalam hatiku
tak berani melihat dan menolong
kututup kepala dengan bantal

kecilku
kucoba tuk liaht kembali
melewati jendela kaca
kulihat titik-titik terang
titik-titik cahaya sang mentari
menembus hitam lebam awan
tak tahan akan hitam dunia
memberi sinarnya kembali
dan memberi kehangatan yang
oh, membuatku tenang
dunia pun menjadi terang kembali
dengan alunan angin sepoi
kucoba nikmati
dan resapi hakikat semua ini

- A 32 -
- kondisi indonesia saat ini

butuh cahaya yang dapat

menerangkan gelapnya

ketidakbenaran -

rintih air mengalir deras

melewati awan-awan dan pepohonan

angin berhembus kencang

melepas rekah menembus raga

jeritan kilatan penuh nafsu

berloncatan tak terkendali

menyambar dengan penuh kekuatan

mencari sasaran yang tak berdaya

keadaan yang tak menghambat kami

berempat mencari tempat tuk merenung

menikmati keindahan alam

dan dingin malam hari

ranca upas pun datangkan kami

dingin gelap terasa

mulai terdengar keramaian dari sebelah

pelajar-pelajar yang mulai bergerak

mencari tempat berteduh pada pondok

yang tak bernyawa lagi

membeli seonggok kayu

tuk menyusun perapian kecil

dan beberapa lama pun mereka tertidur

dengan selimut sarung dan ponco

bersama kaos kaki dan kupluk

menghangatkan badan mereka

aku hanya bisa diam tak berdaya

berteduh di pinggir pondok kecil

di temani oleh perapian kecil

dan segelas air jahe manis dan hangat

tak ingin menutup mata dan tertidur

bermain dengan perapian yang mulai redup

melihat alam yang begitu megah

dihiasi bintang-bintang di gelap malam

terlihat di kananku

sang swasta memulai eksekusinya

dengan bentakan-bentakan memekakan

telingaku yang lelah tuk mendengar

mencoba tuk menahan diri

mengalihkan perhatian pada perapian

yang mulai redup dan semu

kehilangan bahan tuk hidup

akhirnya pelipisku pun lelah

seiring dengan seonggok kayu

yang mulai kehilangan nyawa

ku pun merebahkan badan berkumpul dengan mereka

berharap memperoleh kehangatan

dan mimpi yang indah yang menenangkan

bersama angan-angan terlampau tinggi

mulai menidurkan sang aku

terlamun di tengah malam…
ditemani segelas teh hagat…
lilin kecil dan lampu neon kecil di atas…
serta 3 temanku…

entah pikiranku terbang kemana
kuhanya bisa perhatikan teman lain…
membaca, menggambar, dan menghitung…
itulah kerjaan mereka…

tak kusadar malam semakin larut…
pagi semakin terang…

terlintas dalam pikiran…
betapa indahnya malam ini…
dihiasi oleh taburan bintang…
berkelip-kelip di malam hari…
bersama sang rembulan…

begitu indah malam ini…
hingga ku tak sempat tuk terlelap…

sampai di suatu saat…
kuhanya ditemani oleh mesin bermonitor…
dan sebongkah alat ketik…
dan ku mulai sendiri lagi…
hingga saat ini…

berharap…
kutemui lagi keindahan ini…
di esok malam…

- =p -